Essay Reflektif
Dampak PSBB
Bagi Kebun Binatang
|
Wina Siti Aisyah |
Rabu, 13 Mei 2020 |
Negara-negara
melakukan pencegahan sedini mungkin dalam memutus rantai persebaran Covid-19, termasuk
di Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari karantina wilayah,
Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), hingga melakukan lock down. Dengan menghimbau masyarakat untuk tetap #dirumahaja. Bekerja,
belajar dan beribadah di rumah untuk sementara waktu sampai dunia pulih
kembali.
Dampak dari
himbauan untuk di rumah aja. Membuat banyak sektor mengalami dampaknya: baik sektor
industri, ekonomi, pusat perbelanjaan, termasuk juga sektor pariwisata dan
salah satunya Kebun Binatang.
Sedikit sekali
orang yang bersimpati akan nasib para hewan disana. Manusia terlalu sibuk
memikirkan egonya dan banyak menuntut. Saat ini Allah memang sedang menguji
Dunia ini. Setelah kezaliman (kerusakan) yang selama ini dilakukan. Allah juga
sedang melatih simpati kita, sebagai makhluk yang paling sempurna untuk
membantu makhluk-makhluk Tuhan yang lainnya.
Banyak sekali
media yang mengatakan keprihatinan kondisi Kebun Binatang saat ini. Sejak awal
Maret Kebun Binatang telah sepi oleh pengunjung. Kondisi ini berimbas pada
pendapatan yang didapatkan dari penjualan tiket. Hasil dari penjualan tiket
biasanya digunakan untuk membeli pakan hewan-hewan disana. Sehingga sudah
dipastikan jika pendapatan tidak ada maka nasib hewan menjadi taruhannya.
Dari kejadian
ini, maka pengelola Kebun Binatang memutar otak untuk bisa tetap memberi makan
hewan. Sebagian kebun Binatang masih ada yang memiliki dana cadangan untuk
keadaan krisis seperti ini tapi skalanya hanya tipis sekali. Kebanyakan mereka
mengandalkan hasil penjualan tiket. Sehingga ada beberapa Kebun Binatang yang
meminta bantuan kepada pemerintahan daerahnya.
Berbagai
upaya telah pengelola lakukan mulai dari mengurangi jatah pakan dari biasanya,
mempuasakan hewan: misalnya saja Harimau, dalam satu minggu satu hari
dipuasakan. Para perawat yang harus kreatif dengan menggunakan sumber pakan alternativ,
salah satunya pohon bamboo yang ada disekitar Kebun Binatang, bahkan jika
sangat terpaksa jikalau penutupan masih berlanjut, satwa-satwa herbivora yang
usianya sudah tua bisa dikorbankan untuk satwa-satwa karnivora.
Selain masalah
pakan, ada juga masalah lainnya yaitu soal kesejahteraan hewan. Pengamat satwa
liar dan lingkungan dari Institut Pertanian Bogor, Profesor Hadi Alikodra
mengatakan “ Kecukupan gizi, kecukupan makan, kecukupan kesehatan, ini otomatis
terganggu. Para satwa juga tidak hanya merasakan dampak langsung tapi juga dampak
tidak langsung dari perawat satwa atau keeper. Karena dia sangat sensitive kepada
si penjaga. Kalau keeper-nya ada
sesuatu yang menyebabkan dia tidak suka dalam kehidupannya, maka akan terbaca
oleh satwa yang terpelihara. Sehingga saya khawatir secara keseluruhan kolaps
lah system pemeliharaan di Kebun Binatang.” Jelasnya.
Kondisi perawat
juga harus diperhatikan karena akan berdampak pada satwanya juga. Banyak kebun
binatang telah merumahkan pekerja hariaannya dan mengurangi jam kerja pegawai
tetapnya. Kebun Binatang Bandung misalnya telah menerapkan sistem masuk dua
hari-libur dua hari, dan pegawai hanya dibayar ketika masuk saja. Itu berarti
gaji pegawai berkurang setengahnya. Sehingga akan mengganggu kinerja dan psikis
perawatnya juga. [Pijar Anugerah, BBC Indonesia pada 03 Mei 2020]
Di Bumi
tinggal bermaca-macam makhluk hidup didalamnya. Ada manusia, tumbuhan, hewan
dan lingkungan, dalam artian mereka hidup dihabitatnya masing-masing. Semua makhluk
hidup saling membutuhkan, dan berinteraksi sesuai dengan kebutuhan dan
fungsinya masing-masing. Dalam kehidupan ini ada hubungan timbal balik antar
manusia, tumbuhan, dan tempat tumbuhnya. [Liputan6.com. pada 16 Januari 2019]
Hubungan
antara makhluk hidup dengan lingkungannya yang membentuk suatu ekologi inilah
yang dimaksud ekosistem. Maka kita harus senantiasa membantu makhluk yang lain,
supaya ekosistem tetap terjaga pada mestinya. Termasuk membantu satwa-satwa
yang berada di kebun binatang.
Komentar
Posting Komentar