Liburan Semester Yang Berkesan

Training metode menghafal al-Qur'an 10 menit per halaman bersama Ustadz Ahmad Jaaze Alhafidz

Setelah UAS di semester ganjil selesai, mahasiswa STAIPI Garut akhirnya rehat sejenak dari rutinitas perkuliahan selama kurang lebih satu bulan. Di awal libur, rencananya ingin Aku isi dengan belajar motor, muraja'ah hafalan al-Qur'an dan bersih-bersih rumah. Namun, rencana tinggal rencana. Dari banyaknya rencana hanya satu rencana yang terealisasi, yaitu bersih-bersih rumah.

Disamping rencana awal yang tidak terealisasi. Namun, aku tidak menghabiskan waktu liburanku dengan percuma. Aku menggantinya dengan membaca beberapa novel berbentuk e-book yang aku dapati dari internet. Novel yang ku baca berjudul Bumi Cinta karya Habiburrahman El Shirazy dan novel Bumi karya Tere Liye.

Dipertengahan liburan aku mendapatkan informasi melalui status Whatsapp bahwa akan dilaksanakannya training menghafal al-Qur'an dengan tema metode  menghafal al-Quran 10 menit per halaman bersama Ustadz Ahmad Jaaze alhafidz. Tanpa pikir panjang aku langsung mendaftarkan diri untuk mengikuti training tersebut, karena kuotanya terbatas. 

Sejak memutuskan untuk mengikuti training tersebut. Maka tanggal 16 Februari 2020 adalah hari yang aku tunggu-tunggu.

Beberapa hari kemudian...

Akhirnya, hari yang aku tunggu-tunggu tiba juga. Tepat di hari Ahad tanggal 16 Februari 2020 hari dimana aku akan mendapatkan ilmu baru dan pengalaman baru dalam menghafal al-Quran. Sebenarnya sejak semalam aku sudah menyiapkan hal-hal yang harus aku bawa. Di grup WhatsApp, sudah di runut susunan acara dan hal-hal yang harus dibawa ketika training. Di susunan acara tertulis jam 07.00 sudah harus registrasi ulang namun, karena aku belum bayar uang pendaftaran jadinya setengah jam lebih awal sudah harus registrasi. 

Acara dilaksanakan di Masjid Agung Darul Fityan samping lapangan Ciateul. Aku sampai di tempat lebih awal dari peserta yang lain, bahkan aku mengklaim bahwa aku adalah peserta pertama perempuan yang hadir. Karena ketika masuk ke dalam masjid, belum tampak seorangpun kecuali panitia. Rasanya semangat ini menggebu-gebu. 


Acara diawali dengan membaca basmalah bersama-sama, yang dipimpin oleh Master of Ceremony. Lalu dilanjutkan pembacaan al-Qur'an dan sambutan. Akhirnya tiba di acara inti yaitu pelatihan mengahafal al-Qur'an 10 menit per halaman yang disampaikan oleh Ustadz Ahmad Jaaze.

Ketika Ustadz Jaaze berada di depan, semua peserta matanya tertuju kepada beliau. Tak sabar untuk menerima ilmu yang akan beliau sampaikan. Termasuk aku, rasanya senang sekali mendapatkan shaf pertama berkat dari datang lebih awal. Sehingga pandangan mata bisa langsung tertuju kepada Ustadz Jaaze. Sehingga ilmu yang disampaikan bisa menyerap dengan maksimal. إنشاءالله

Ustadz Jaaze, menyampaikan materi dibantu dengan perangkat infocus, laptop, dan audio sehingga semua indra bisa menyerap dengan maksimal. Beliau mengawali materi dengan memaparkan beberapa keutamaan menghafal al-Quran dan beberapa kalimat motivasi untuk penghafal al-Quran. Ada satu kalimat yang menampar diri ku.

"Jika anda jujur dalam azam dan tekad anda dalam menghafal al-Quran, maka Allah pun akan jujur mewujudkan harapan anda tersebut".

Kalimat tersebut rasanya menampar diri ini. Karena sebenarnya aku sudah tau tentang keutamaan menghafal al-Quran sejak aku masih SD. Disebabkan kakak ku sudah merasakan nikmat itu. Iya, kakak laki-laki ku sudah mengawalinya. Rasanya malu saja aku hanya baru berangan-angan tanpa realisasi dengan tekad yang kuat. Karena diri ini terlalu lemah melawan rasa malas. Namun, aku berharap dengan mengikuti training ini bisa menumbuhkan semangat dalam diri untuk menghafal al-Quran.

Ustadz Jaaze memaparkan syarat yang perlu kita sepakati sebelum mulai menghafal al-Quran, sebagai berikut:
  1. Tersenyum bahagia, dengan tersenyum maka dapat memperbaiki imun.
  2. Banyak minum air putih, karena dalam menghafal al-Quran adalah kerjaan otak. Sehingga kita harus memenuhi kebutuhan otak dan otak sangat rakus akan oksigen Dan salah satu cara untuk melancarkan oksigen dengan banyak minum.
  3. Memilih tempat, ada 4 syarat:
  1. Tidak mengganggu fokus pendengaran.
  2. Tidak mengganggu fokus penglihatan.
  3. Tidak mengganggu fokus pikiran.
  4. Tidak mengganggu fokus perasaan.
Tetapi perlu diingat, dalam memilih tempat alangkah baiknya jangan tempat yang terlalu nyaman. Misalnya saja di atas kasur. Dikarenakan dapat mengundang kantuk.
  1. Memilih waktu. Menurut penelitian waktu yang bagus untuk menghafal al-Quran adalah di waktu fajr (1 jam sebelum subuh dan 1 jam setelah subuh). Diabadikan dalam QS.Al-Isra [17]: 78, yang artinya:
“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)”. (QS.Al-Isra [17]: 78).
Selain waktu fajr, adapula waktu duha, antara asar dan maghrib, antara maghrib dan isya, ba’da isya, ataupun sebelum tidur. Untuk waktu bisa disesuaikan setiap individu masing-masing.
  1. Memilih guru al-Quran.
  2. Memilih mushaf al-Quran, 3 kriteria untuk memilih mushaf al-Quran:
  1. Gunakan satu cetakan al-Quran. Beda cetakan beda posisi, sehingga apabila sering menggati mushaf al-Quran maka akan mengganggu fokus dan konsentrasi. Dianjurkan menggunakan mushaf utsmani (satu halaman 15 baris).
  2. Ukurannya sedang dan lebih besar (lebih baik). Dikhawatirkan jika dalam menghafal al-Quran menggunakan mushaf dengan ukuran yang kecil, maka huruf yang terlihat ditakutkan kurang jelas, atau sebagainya. Boleh menggunakan mushaf kecil (yang bisa disimpan disaku), digunakan ketika muraja’ah (dalam artian sudah hafal bukan sedang menghafal).
  3. Gunakan al-Quran yang berwarna. Karena otak ini suka dengan hal yang berwarna.

Selain syarat-syarat yang perlu kita sepakati sebelum mulai menghafal al-Quran, Ustadz Jaaze juga memaparkan persiapan-persiapan yang harus dipenuhi ketika hendak menghafal al-Quran. Sebagai berikut:
  • Persiapan Psikologis (mental)
  1. Kita sering kalah dengan diri kita, karena banyak alasan (menunda-nunda pekerjaan).
  2. Karena tidak sabar dalam dalam menghafal al-Quran.
  3. Karena kita tidak yakin dengan kemampuan yang telah Allah karuniai kepada kita.
Untuk melawan mental kita yang lemah tersebut maka kita harus, menghapus kata-kata negative tentang sulitnya menghafal al-Quran dan mengganti dengan kata-kata positive tentang mudahnya menghafal al-Quran.
“Aku tergantung prasangka hamba-ku, maka hendaklah ia berprasangka apa saja tentang Ku.” (Hadits Qudsi).

  • Membayangkan dan Mengimajinasikan
Ternyata disaat anda membaca dan mengulang hafalan al-Quran, jika bergantung dengan keberadaan mushaf al-Quran, baik melihat, memegang, dan membuka mushaf al-Quran. Itulah sebenarnya yang menjadikan hafalan al-Quran: tidak lancar-lancar, tidak mutqin, berada di short memory, dan tidak percaya diri.

Oleh karena itu kita harus memindahkan hafalan al-Quran kita yang tadinya disimpan di short memory maka pindah ke long memory. Dengan membayangkan dan mengimajinasikan al-Quran seolah-olah al-Quran ada di otak kita dengan cara ketika kita memurajaah hafalan al-Quran, kita diharuskan menjauhkan mushaf al-Quran. Kita harus menumbuhkan rasa percaya diri dengan tidak ketergantungan dengan mushaf. Jikalau dirasa ada yang terlupakan maka boleh membuka mushaf untuk memastikan kebenarannya.

  • Pemanasan Otak
Cara pemanasan otak sebelum menghafal al-Quran:
Ketika anda duduk dan siap menghafal al-Quran, janganlah langung memulai untuk menghafal. Akan tetapi kita harus melakukan pemanasan otak terlebih dahulu, dengan cara:
  • bacalah apa saja yang anda hafal tanpa memegang mushaf selama 5-6 menit sebelum menghafal.
  • Jaga jarak dari mushaf
  • Ketika itu mulailah menghafal dan anda akan menghafalnya dengan sangat cepat dan mudah. Dan ini merupakan salah satu rahasia cara kerja otak kita.

  • Pernafasan
Caranya Tarik nafas yang panjang dari hidung, tahan diperut selama 8 detik, dan keluarkan secara perlahan melalui mulut. Lakukan 3x sebelum menghafal.

  • Fokus
  • Cara memegang dan melihat mushaf al-Quran. Dengan cara angkat al-Quran sejajar dengan mata, ini berfungsi untuk menscan tulisan al-Quran melalui mata dan menyimpannya di otak.
  • Menghadirkan pikiran.
  • Mengadirkan perasaan.

Setelah memaparkan persiapan-persiapan yang harus dipenuhi ketika hendak menghafal al-Quran. Para peserta training mempraktekan ilmu yang telah disampaikan. Kita diberi waktu kurang lebih 10 menit untuk menghafal al-Quran berdasarkan hafalannya masing-masing. Dengan hafalan al-Quran yang baru. Karena temanya kan “Pelatihan Menghafal Al-Quran 10 menit per halaman”.

Semua orang yang berada di Masjid larut dalam hafalannya masing-masing dan Masjid pun bergema membaca firman Allah. Rasanya nikmat sekali. Berkumpul di tempat yang mulia, dengan orang-orang mulia (penghafal al-Quran) dan menghafal kan kitab yang mulia (al-Quran). Apapun yang berkaitan dengan al-Quran pasti selalu dimuliakan.

Setelah waktu untuk menghafal selesai, peserta selanjutnya diperintahkan untuk menyetorkan hafalannya ke orang yang di samping kanan dan kirinya. Alhamdulillah aku mendapatkan 7 ayat, 4 ayat dari surat al-Ma’arij dan 3 ayat dari surat Nuh. Memang aku belum mencapai target satu halaman. Tapi aku berprasangka bahwa semuanya butuh proses.

Waktu untuk mensetorkan hafalan selesai. Tak terasa sudah pukul 11.30, saatnya istirahat dan persiapan shalat Dzuhur. Ketika registrasi setiap peserta diberi kupon untuk mengambil makan siang. Jam istirahat sampai pukul 13.00.

Istirahat selesai, Ustadz Jaaze melanjutkan materi tentang level-level dalam menghafalkan al-Quran.
  1. Level Al-Hifz
  2. Level At-Tikror
  3. Level Ar-Robht (mengikat)
  4. Level Al-Muraja’ah
  5. Level At-Tajdid wat-Tasbit (memperbaharui dan mengokohkan)
Setiap levelnya peserta diperintah untuk memperaktekannya. Namun, hanya 3 level awal saja yang diperaktekan. Dikarenakan sebentar lagi waktu asar. Yang berarti acara akan segera ditutup. Rasanya ingin terus berada di majelis ini. Namun, waktu tak bersahabat. Sehingga menarik paksa diri ini untuk berpisah.

Ketika peserta training sedang berdzikir ba’da shalat Asar tiba-tiba saja hujan turun. Lihatlah langit saja mendukung untuk tidak membubarkan majelis ini. Namun, hujan turun hanya sebentar dan hujan pun intensitasnya tidak terlalu besar. Sehingga setelah dirasa hujan berhenti aku langsung pulang menaiki angkot bersama teman. TAMAT



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Essay Argumentatif

Essay Deskriptif